TOPsul. Makassar, 26 Juni 2026 – Dukungan terhadap keberlanjutan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus mengalir dari berbagai elemen masyarakat. Program yang menjadi salah satu prioritas pemerintah itu dinilai memberikan manfaat nyata dalam meningkatkan pemenuhan gizi anak-anak, ibu hamil, dan ibu menyusui, sekaligus mendorong perputaran ekonomi masyarakat melalui pelibatan pelaku UMKM.
Masyarakat di sejumlah daerah seperti Jakarta, Karawang, Makassar, Cianjur, Nusa Tenggara Barat, hingga Sumatera Barat disebut menyampaikan apresiasi terhadap langkah pemerintah yang melakukan efisiensi anggaran dan pembenahan tata kelola pelaksanaan program MBG agar lebih tepat sasaran.
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik S. Deyang, sebelumnya menyampaikan rencana melakukan sejumlah penyesuaian dalam pelaksanaan program. Di antaranya mengalihkan alokasi MBG dari sekolah-sekolah yang dinilai mampu ke wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), memanfaatkan pendanaan dari Corporate Social Responsibility (CSR) dan hibah luar negeri, serta melakukan moratorium pembangunan dapur baru sambil mengevaluasi dapur-dapur yang telah beroperasi.
Selain itu, BGN juga akan memfokuskan penerima manfaat kepada kelompok prioritas, yakni ibu hamil, ibu menyusui, balita, dan peserta didik, dengan mengedepankan efisiensi anggaran, peningkatan kualitas layanan, serta tata kelola yang lebih akuntabel.
Koordinator Lembaga Advokasi Kajian Strategis Indonesia (LAKSI), Azmi Hidzaqi, menyatakan dukungannya terhadap langkah-langkah pembenahan tersebut. Menurutnya, kebijakan efisiensi anggaran dan penyempurnaan tata kelola merupakan upaya agar program MBG dapat berjalan lebih efektif tanpa membebani anggaran negara.
Azmi juga mengapresiasi kebijakan penghentian sementara penyaluran MBG kepada siswa selama masa libur sekolah sebagai bagian dari penyesuaian pelaksanaan program.
Ia menilai mayoritas masyarakat mendukung penyesuaian distribusi makanan bergizi menjadi lima hari dalam sepekan. Kebijakan tersebut diperkirakan dapat menghasilkan penghematan anggaran yang signifikan, sekaligus diiringi evaluasi terhadap skema insentif Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan penyesuaian penerima manfaat agar penggunaan anggaran semakin efisien.
Menurut Azmi, tujuan utama program MBG tetap harus menjadi prioritas, yaitu meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia, menekan angka stunting, serta mempersiapkan sumber daya manusia yang unggul menuju Indonesia Emas 2045.
Karena itu, LAKSI mengajak seluruh elemen masyarakat, media, dan organisasi masyarakat sipil untuk bersama-sama mengawal pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis agar berjalan sesuai tujuan yang telah ditetapkan pemerintah.
“Program MBG merupakan investasi bagi masa depan generasi Indonesia. Karena itu, program ini perlu didukung dan diawasi bersama agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat yang membutuhkan,” ujar Azmi.
