TOPsul. Jakarta – Publik mengecam keras maraknya penyebaran berita bohong dan fitnah keji yang menyerang Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), Komjen Pol. Suyudi Ario Seto, melalui sejumlah platform media sosial seperti TikTok, X, dan Facebook.
Belakangan beredar video dengan narasi palsu yang membangun framing jahat seolah-olah Kepala BNN memiliki hubungan dengan seorang artis. Konten tersebut diunggah oleh akun anonim yang tidak bertanggung jawab dan dengan cepat menyebar luas di ruang digital, memicu kegaduhan serta perdebatan publik.
Sejumlah aktivis dan pemerhati media digital mengingatkan masyarakat agar lebih waspada terhadap akun-akun media sosial yang kerap menyebarkan hoaks. Koordinator Lembaga Advokasi Kajian Strategis Indonesia (LAKSI), Azmi Hiddzaqi, menegaskan bahwa informasi tersebut murni kabar bohong dan sarat provokasi.
“Isu ini jelas hoaks dan sengaja dibuat untuk merusak nama baik Kepala BNN yang selama ini dikenal tegas dan berhasil memberantas jaringan narkoba besar. Kami mengimbau masyarakat agar tidak mudah percaya pada informasi yang sumbernya tidak jelas,” ujar Azmi dalam keterangannya di Jakarta.
Azmi menambahkan, penyebaran hoaks dan ujaran kebencian merupakan pelanggaran hukum yang diatur dalam Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Masyarakat yang merasa dirugikan akibat hoaks dan hate speech dapat melaporkannya melalui saluran resmi aparat penegak hukum.
Menurut Azmi, serangan terhadap Kepala BNN bukanlah tindakan spontan. Ia menilai ada motif dan kepentingan tertentu di balik penyebaran isu tersebut. Oleh karena itu, ia mendesak aparat penegak hukum untuk menelusuri dan mengungkap pihak-pihak yang menjadi aktor intelektual di balik penyebaran narasi palsu tersebut.
“Kami meminta aparat segera mengusut tuntas siapa dalang di balik penyebaran hoaks dan framing jahat ini. Jangan sampai masyarakat terus disesatkan oleh narasi liar yang tidak benar,” tegasnya.
Selain itu, Azmi juga meminta pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) agar segera mengambil langkah cepat dengan melakukan penghapusan atau take down terhadap seluruh konten hoaks yang beredar. Ia menduga penyebaran isu tersebut digerakkan secara sistematis dan didukung oleh kekuatan finansial tertentu.
Azmi menyayangkan maraknya hoaks yang kini berani menyasar tokoh penting negara. Menurutnya, negara harus memiliki sistem dan teknologi yang kuat untuk mendeteksi serta memutus penyebaran berita bohong, agar pejabat negara dapat bekerja dengan tenang tanpa gangguan informasi menyesatkan.
Di akhir pernyataannya, Azmi mengimbau masyarakat dan warganet agar lebih bijak dalam menggunakan media sosial serta tidak mudah terprovokasi oleh berita bohong dan ujaran kebencian.
“Hoaks dan ujaran kebencian sangat berbahaya karena dapat memecah belah persatuan bangsa. Tidak semua informasi di media sosial itu benar dan bermanfaat. Karena itu, masyarakat harus cerdas memilih dan menyaring informasi sebelum membagikannya,” pungkasnya.
Azmi Hiddzaqi
Koordinator LAKSI
Lembaga Advokasi Kajian Strategis Indonesia
