Badan Narkotika Nasional (BNN) berhasil mengungkap keberadaan clandestine laboratory (pabrik gelap) narkotika jaringan internasional yang memproduksi ribuan liquid vape mengandung narkoba. Dalam operasi tersebut, BNN menangkap dua warga negara asing (WNA) asal Malaysia berinisial MK dan TKG jakarta, 16/1/2026.
Kedua pelaku diketahui memproduksi sekitar 3.000 unit vape berisi liquid narkoba yang mengandung zat etomidate di sebuah apartemen kawasan Sudirman, Jakarta. Dari hasil penyidikan, BNN menyebutkan omzet jaringan ini mencapai sekitar Rp18 miliar.
BNN menegaskan, operasi yang dilakukan bersama Bea dan Cukai tersebut diperkirakan telah menyelamatkan sedikitnya 15.000 jiwa anak bangsa dari ancaman penyalahgunaan narkoba. Pengungkapan ini menambah daftar keberhasilan BNN dalam menggagalkan peredaran cairan vape yang mengandung zat narkotika berbahaya.
Fenomena penyalahgunaan vape narkoba tidak hanya terjadi di Indonesia. Di Singapura, otoritas setempat juga menemukan ribuan produk vape ilegal yang mengandung zat berbahaya seperti etomidate dan ketamin. Produk tersebut dikenal dengan sebutan “zombie vapes” atau “Kpods” karena menimbulkan efek linglung, kehilangan keseimbangan, hingga risiko overdosis.
Ketamin termasuk Narkotika Golongan III sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dan diperbarui melalui Permenkes Nomor 13 Tahun 2014. Sementara Tetrahydrocannabinol (THC), zat psikoaktif utama pada ganja, tergolong Narkotika Golongan I berdasarkan Permenkes Nomor 4 Tahun 2021.
Secara medis, etomidate merupakan agen hipnotik yang digunakan untuk induksi anestesi sebelum tindakan operasi dan hanya boleh digunakan oleh tenaga medis profesional. Namun, ketika disalahgunakan sebagai cairan vape dan dihirup, zat ini berubah menjadi sangat berbahaya karena efeknya yang tidak terkendali terhadap sistem saraf dan kesadaran.
Koordinator Lembaga Advokasi Kajian Strategis Indonesia (LAKSI), Azmi Hidzaqi, dalam keterangannya di Jakarta, menyampaikan apresiasi atas keberhasilan BNN membongkar sindikat narkoba internasional tersebut.
“Kami mendukung penuh kerja nyata BNN yang tidak hanya mengedepankan penegakan hukum tegas, tetapi juga penguatan intelijen serta kerja sama global. Pendekatan holistik ini sangat penting, terutama dalam menyongsong target Indonesia Emas 2045,” ujar Azmi.
Azmi juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berkolaborasi dalam upaya pencegahan dan rehabilitasi demi mewujudkan Indonesia yang bersih dari narkoba. Masyarakat diimbau untuk berani menolak, mencegah, melapor, serta mengikuti rehabilitasi apabila terindikasi penyalahgunaan narkoba.
Menurutnya, kepemimpinan Kepala BNN Komjen Pol. Suyudi Ario Seto menunjukkan sikap tegas dan berani, salah satunya melalui operasi senyap yang berhasil menangkap gembong narkotika internasional, termasuk penangkapan di luar negeri seperti Kamboja. BNN dinilai konsisten menerapkan strategi War on Drugs melalui pengungkapan sindikat lintas negara, termasuk jaringan dari Iran, Tiongkok, dan Malaysia.
Azmi Hidzaqi
Koordinator LAKSI
Lembaga Advokasi Kajian Strategis Indonesia
